Futsal SMPN 1 BALEENDAH

Futsal SMPN 1 BALEENDAH
We The Champion

Rabu, 20 Maret 2013

Kisah Cristiano Ronaldo “buah dari kerja keras”

Diceritakan bagaimana Sporting Lisbon dengan berani menginvestasikan €22.500 untuk seorang bocah berusia 12 tahun.

Untuk seri ketiga, GOAL.com menerbitkan kupasan buku baru Luca Caioli, “Ronaldo: The Obsession for Perfection”, yang menggambarkan prestasi fenomenal seorang anak miskin dari Madeira dan menjadi seorang megabintang dari Sporting Lisbon, Manchester United, hingga Real Madrid.
Anak itu tidak pernah naik pesawat, dia bahkan tidak pernah meninggalkan pulau tempat tinggalnya. Ini tantangan terberat yang harus dihadapinya dan dia begitu gugup sampai-sampai tidak bisa tidur malam sebelum berangkat.
Ayah baptisnya, Fernao Sousa, ikut menemani ke Lisbon. Itu tahun 1997, saat liburan Paskah dan Cristiano sedang menjalani ujicoba di Sporting Lisbon. Dia lebih suka bergabung dengan Benfica, tim yang dicintai ayah dan kakaknya. Tapi ibunya selalu mendukung Sporting dan dia punya firasat anaknya akan menjadi bintang seperti Luis Figo. Sporting memiliki akademi terbaik di Portugal, yang berhasil mencetak pemain sekelas Paolo Futre, Figo, dan Simao Sabrosa. Sementara pemain yang masih berkiprah adalah Joao Pinto, Ricardo Quaresma, Hugo Viana, dan Luis Nani.
Cristiano yakin bisa tampil baik di sana. Dia tahu dia punya kemampuan dan dia rasa dia bisa meyakinkan staf pelatih Sporting kalau kemampuannya memang baik. Tapi dia baru 12 tahun dan ketika datang di kompleks latihan tim taruna, suasananya menekan.
Pelatih Paulo Cardoso dan Osvaldo Silva hadir di lapangan mengamatinya bermain. Mereka tidak terkesan dengan fisik Ronaldo, dia anak kecil yang kurus kering. Tapi begitu melihatnya beraksi, ceritanya berubah. Anak kecil dari Quinta do Falcao itu mampu menahan bola dan membawanya melewati dua tiga pemain lawan. Dia anak yang tak mau kalah, tampil one man show, menipu lawan, menggiring bola, dan menyisir seluruh sisi lapangan.
“Saya melihat Osvaldo dan bilang, ‘Anak ini beda, dia istimewa’,” kenang Cardoso. “Dan kami bukan satu-satunya yang berpikiran demikian. Di akhir sesi latihan, semua anak mengerumuninya. Mereka tahu dia lah yang terbaik.”
Pengalaman di Sporting | Ronaldo beraksi melawan bekas klubnya saat masih di Manchester United
Staf pelatih Sporting terkesan dengan ujicoba itu. Mereka ingin menyaksikannya lagi bermain di hari berikutnya, di lapangan latihan di sebelah stadion Jose Alvalade lama. Kali ini, direktur akademi Aurelio Pereira akan hadir memantau.
“Dia berbakat, dia bisa bermain dengan dua kaki, dia sungguh sangat cepat, dan ketika dia bermain sepertinya bola merupakan bagian tubuhnya sendiri,” jelas Pereira. “Tapi yang lebih mengesankan saya adalah semangatnya. Kekuatan karakternya bersinar. Dia pemberani, secara mental, dia sangat tangguh. Dia tak kenal takut, tak gentar menghadapi pemain yang lebih tua. Dia memiliki kualitas kepemimpinan yang hanya dimiliki para pemain hebat. Tipe yang langka. Ketika kembali ke ruang ganti semua anak berebutan mengobrol dengannya dan ingin mengenalnya. Dia memiliki segalanya dan jelas dia hanya akan jadi lebih baik.”
Pada 17 April 1997, Paulo Cardoso dan Osvaldo Silva menyusun dokumen identifikasi Cristiano. Dokumen itu berbunyi: “Pemain dengan bakat luar biasa dan teknik istimewa. Catatan khusus adalah kemampuannya menghindar dan meliuk, dari keadaan diam maupun saat bergerak”. Di sebelah kolom “rekrut” ada contengan di kolom “ya”. Dia bermain sebagai gelandang tengah, atau “di lubang” sebagaimana yang diinginkan para pelatih. Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro berhasil melalui tes, dia bisa bermain untuk Sporting. Tapi pertama-tama mereka harus mencapai kesepakatan dengan Nacional da Madeira.
Dia berbakat, dia bisa bermain dengan dua kaki, dia sungguh sangat cepat, dan ketika dia bermain sepertinya bola merupakan bagian tubuhnya sendiri … Dia pemberani, secara mental, dia sangat tangguh. Tipe yang langka.
Nacional berutang kepada Sporting €22.500 untuk Franco, pemain muda yang direkrut dari Sporting.
Transfer Cristiano menjadi kesempatan untuk membayar utang tersebut, tapi €22.500 untuk seorang bocah berusia 12 tahun adalah harga yang sangat tinggi. “Tidak pernah terjadi,” jelas Simoes de Almeida, mantan pengurus Sporting. “Sporting tak pernah membayar sebesar itu untuk seorang pemain muda.”
Aurelio Pereira dan pelatih lain harus berjuang meyakinkan direksi kalau mereka layak berinvestasi sebanyak itu untuk seorang bocah. Pada 28 Juni 1997, Pereira menyusun laporan baru, menambah catatan sebelumnya. “Meski kelihatan menggelikan membayar mahal untuk bocah 12 tahun, dia pemain yang sangat berbakat, terbukti selama ujicoba dan disaksikan staf pelatih. Dia akan menjadi investasi besar di masa depan.”
 Kalimat ini cukup meyakinkan direktur finansial klub dan transfer pun akhirnya disepakati


.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar